Archive for December, 2006

Sudah Gaharu, Cendana Pula

Saturday, December 23rd, 2006

Kalo kita ga ngerti suatu hal atau kita bingung, kita nanya ama orang. Itu sih wajar. Tapi kalo kita sebenernya tau jawabannya, kita masih nanya… mm.. gue ga ngerti deh kenapa bisa jadi begini!

Ini yang kadang suka kejadian di kita. Kita suka menanyakan sesuatu, yg sebenernya ga usah ditanyain keorang juga, kita tau jawabannya. Kita tau apa yang harus kita lakuin. Kita tau untuk nentuin yg mana yg benernya.

Tapi kenapa kita masih suka begitu? Kalo menurut gue sih, itu karna kita suka melakukannya. Kita suka, kita menikmati saat pertanyaan tertentu yg sebenernya kita tau jawabannya itu, kita tanyain keorang. Rasanya seneng aja. Ya kan? Pasti hampir semua orang juga pernah begini.

Tapi ini semua gue kembaliin ke sudut pandang masing2. Tentu aja, pertanyaan gue yg satu ini lebih baik ditanyain kediri sendiri aja. Ga usah ke orang lain lagi. Karna pastinya, jawabannya udah pada tau sendiri. ‘Gue gitu ga sih?’

Anyway, satu sisi lainnya adalah yg ditanya pertanyaan2 semacem itu. Mau jawab apa kita kalo posisi kita adalah yg ditanya? Apa yang harus kita jawab? Sementara, seolah kita tau kalo sebenernya yang nanya juga tau jawabannya. Yang ada kita jadi dengan setengah hati ngejawabnya.

Atau kalo kita mikir, kalo yang nanya itu emang beneran ga tau jawabnya. Kita jawab dengan susah payah, bahkan kadang jadi suatu pembahasan panjang. Padahal, ujung2nya adalah si penanya cuma mo menanyakannya aja. Atau cuma mo mengekspresikan pertanyaan2 itu dgn bertanya ke kita. Dan untuk hal yg satu itu, kita tau dari jawaban yg akhirnya dia jawab sendiri. Dan kita cuma bisa bilang, “udah tau nanya..”

Dan pada akhirnya, kita hanya buang2 waktu. Baik si penanya, apalagi yg ditanya. L

Ada pertanyaan?

Hak Untuk Marah

Saturday, December 23rd, 2006

Marah itu hak siapa aja kan?

Tapi kenapa kalo ada hal yang ga ngenakin terjadi ama gue trus gue ga boleh marah? Ada orang yg melakukan hal yg seenaknya ke gue, ngomong seenaknya, bikin ini itu seenaknya tapi seolah2 itu oke2 aja buat gue?

Dan pada akhirnya gue ga terima. Dan tentu aja, gue marah. Marahnya gue juga bukan kaya orang yg kebakaran jenggot. Gue diem aja.

Gue cenderung menghindar? Pernah juga. Gue ngirim sms yg ngasih tau gue ga terima? I did it. Gue negor langsung? Kenapa engga? Trus gue berubah sikap? Percayalah, ini yg paling sering.

Tapi semua itu akhirnya bermuara pada satu hal, yaitu gue disalahin. Gue lantas dijadiin orang yg dibilang ga pantes utk punya reaksi begitu. Pake bawa2 gue tuh sensi segala lagi! Atau jangan2, some of them may think that it has something 2 do with my knowledge and the educations that I have!

What a shallow thought!

One thing 4 sure is, I know what’s the difference, which one is the big deal and which one is not.

And in my case I always let them know what thing that actually makes me mad. And of course, the big deal one.

***

Well, what I’m trying to say is, coba lah.. ketuk hati masing2 utk mempertanyakan, sejauh mana kita anggap diri kita lebih tinggi dari orang lain? Kenapa kita ga pernah mikir kalo kita ama orang lain sama aja? Sama2 punya hak diperlakukan baik, dan tentu aja punya hak utk marah.

Ini bukan berlaku sama gue aja, tapi semua orang. Apa selama ini kita pernah mikir bahwa mereka punya hak utk marah yg sama kaya kita sendiri? Kalo kita diperlakukan ga bener, kita marah. Tapi kalo kita memperlakukan orang ga bener, kita cuek aja. Apa yg buat kita ringan, belum tentu buat orang lain itu ringan. Dan tentu aja mereka punya reaksi. Dan marah adalah salah satu bentuknya. Dan begitu mereka marah, kita anggap mereka sebagai orang yg ‘macem2 aja’, ‘kelewat sensi’, atau bahkan nganggep mereka udah sinting.

C’mon, everyone is equal!

Just open up your mind and heart, that u should respect no matter who they are. And one thing 4 sure, you’re not the only one who has feeling here.

This one is dedicated to those who are being underestimated. Just wake up! You have the right to get mad!

Thank You

Friday, December 8th, 2006

Pernah sakit hati oleh orang yang kita cintai? Sepertinya hampir semua orang pernah. Dan kini, jika kita mengingat apa yang pernah dia lakukan ke kita, rasanya bagai sesuatu yang selalu jadi hal mengerikan. Suatu hal yang membuat kita sedih, menangis, dan tentu saja membuat kita semakin membencinya.

Didalam hati kita, sebenarnya ada dia. Tapi kita posisikan dia sebagai penjahat dihati kita. Bagai sebuah borok yang tak kunjung sembuh, atau sesuatu yang jadi nomor satu dalam hal yang jelek-jelek lainnya. Dan saat kita mendengar sebuah lagu yang liriknya mengatakan hal-hal yang berbau sakit hati akan cinta, seolah lagu itu khusus diciptakan untuk kita dan tertuju padanya. Walau kenangan-kenangan bersama dia yang indah tentu saja bukan hal yang terlupa. Bahkan mungkin sangat memorable.

Tapi lebih daripada itu ada hal yang tidak kita sadari. Bahwa kita sebenarnya bisa sangat berterimakasih padanya. Karena sebenarnya, dialah yang dulu pernah menjadi salah satu yang memberikan hari-hari terbaik yang kita pernah punya. Dengan dia, kita tau rasanya, apa yang orang lain rasakan pada saat kasmaran. Berada didekatnya, adalah hal yang utama. Karna jika kita berada didekatnya, kita tidak ingat apapun karena rasa bahagia itu sedang melanda kita. Bersama dia, kita tau rasanya menjadi orang yang paling bahagia didunia.

Apapun yang terjadi kini, meski dia sudah menjadi penjahat paling kacau dihati kita, setelah kita menyadari ada sisi yang satu ini, semuanya jadi tidak seburuk itu kan? Hopefully! And one more thing, berterimakasihlah. Paling tidak, dihati saja. And be grateful to God. Saya yakin, senyum kita pun akhirnya hadir.

Satu hal, saya tidak sedang menyarankan untuk kembali menjalin hubungan dengan mereka lagi tentunya. Hanya saja ini adalah sebuah sisi lain yang kadang kita tidak sadari. Karena kita terlalu asik dengan ‘menghukum’ dia dalam hati kita. Well now, just move on with your life and make everything in your life better.

Percaya atau tidak, terima atau tidak, dialah yang pernah menjadi salah satu yang memberikan hari yang terbaik yang pernah kita miliki.   

As Dido’s lyric,  thank u, for giving me the best days of my life…

TJ Sudirman

Idealisme Yang Terkoyak

Friday, December 1st, 2006

“Kita udahan aja, deh.”

“Lo ama gue ga cocok lagi jadi temen.”

“Gue ga suka banget ama omongan lo barusan. Plz, don’t make fun of me.”

Tiga buah kalimat ini terus-terusan keinget dibenak gue. betapa sebenernya gue ga mau itu terjadi. Cuma mau digimanain lagi.? Dan semuanya gue pikir bersumber pada satu hal, kekerasan gue dalam mempertahankan apa-apa aja yang selama ini gue anggap bener. Apa yang selama ini terus2an berada dalam hidup gue. Dan apa2 yang gue pegang teguh. Sebuah keidealismean. An idealism.

Dalam hidup gue, gue terpaksa harus memutuskan banyak sekali hubungan, entah itu hubungan kasih, persahabatan, pekerjaan, dan masih banyak lagi, demi idealisme-nya gue itu.

Entah ini sebuah kesalahan dalam pengaplikasian apa yang disebut dengan idealisme atau kenapa, gue juga jadi nge-blur utk memahaminya. Yang pasti jika ada sesuatu yang terjadi dan itu diluar dari yang ‘seharusnya’ menurut gue, gue ga bisa diem. Ada aja tindakan2 gue. entah itu marah, negor, atau bahkan secara ekstrim, mutusin hubungan.

Pada dasarnya keidealismean gue bukan hanya dalam gue punya hubungan sesama manusia aja. Tapi banyak hal. Apa yg menurut gue pas buat gue, itulah yg gue mau. Dan kalo engga, I certainly cannot deal with that. 

Dan mungkin saat ini, entah ini adalah suatu pengujian atau teguran kalo gue udah harus berubah, gue ga tau. Karna dalam beberapa bulan terakhir ini, banyak sekali hal2 yg terjadi yg terkesan mencoba utk mengoyak keidealismean gue.

Apa gue emang harus berubah? Dan menjadi orang yang sama sekali ga punya sikap dan terus2an ikut sana ikut sini yang penting gue aman? Yang penting gue punya temen, yang penting gue punya pacar? Yang penting gue punya kerjaan? Ya ampun.. begitukah hidup?

Ini adalah sebuah pertanyaan. Dan sampai sekarang  ini gue belum nemuin jawabannya. Bahwa hubungan2 yg gue bina selama ini pada akhirnya banyak yg rusak, karna gue bersikeras mempertahankan apa yg menurut gue bener.

Gue inget kata2 Su Hok Gie, ‘lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan’.

Kalo dihubungin kehidup gue adalah; ‘lebih baik orang bisa melakukan apa yg mereka mau lakukan ke gue, sementara gue tetep cengar/ir nerima dan seolah-olah itu bener2 aja, padahal menurut gue salah, dan gue ga terima.’

Apa yg harus gue lakukan? Membuang pertahanan gue itu, atau menjadi orang yg sama sekali ga punya sikap, dan mau2 aja utk ini itu.

Apakah juga gue serendah itu, sampe2 apa yg gue pertahanin, yg cuma hal sederhana tetep dianggap salah. Bahkan gue ga boleh marah sama sekali?

Ini adalah sebuah pertanyaan…

Salah satunya buat mereka, yang mungkin pernah dekat dengan gue, tapi pada akhirnya harus terhempas karna kerasnya gue mempertahankan apa yg gue anggap benar selama ini.