Nama saya Jono. Saya adalah seorang office boy
disebuah perusahaan swasta di Jakarta. Disebuah gedung tinggi dengan
dua puluh dua lantai. Dan saya ditugasi untuk mengerjakan segala
sesuatu yang ditugaskan pada saya dilantai empat belas.
Rumah
saya tidak terlalu jauh dari tempat saya bekerja. Hanya dengan naik
satu kali angkutan umum, lantas langsung sampai kedekat rumah saya.
Saya
suka sekali bekerja ditempat saya bekerja itu. Karena selain tempatnya
tidak terlalu jauh, saya juga suka dengan orang-orang yang bekerja
disana. Mulai dari teman-teman rekan kerja saya sesama office boy atau office girl, juga para karyawan-karyawan kantoran-nya.
Mereka,
para karyawan kantoran itu, umumnya baik dan ramah. Saya merasa, saya
tidak dibedakan dari mereka. Mereka suka mengajak saya ngobrol, bahkan
mereka sering pula bercanda dengan saya. Saya benar-benar senang dengan
keadaan seperti ini. Pekerjaan saya yang begitu memeras keringat dan
tenaga, semua seolah terbayar dengan keadaan yang menyenangkan itu.
Saya
jadi suka memberikan mereka bantuan lebih baik dari biasanya. Kadang
saya suka menawarkan untuk membuat secangkir kopi atau teh untuk mereka
disiang hari. Dan jika sudah begitu, lantas banyak yang ikut-ikutan
minta saya buatkan. Ah, tidak ada salahnya dengan itu. Toh, saya senang
membuatkannya. Ditambah, kadang-kadang salah satu dari mereka juga suka
memberikan makanan untuk saya. Bahkan beberapa kali, kami sering makan
dari satu piring. Jadi ya, hitung-hitung sebagai timbal balik saja.
Dari
karyawan-karyawan itu saya juga sering mendapatkan uang tips. Hmm, saya
tidak terlalu mengharapkan ini juga sih. Tapi saya senang. Dan ada juga
salah satu dari mereka yang suka bertemu saya dibis umum setiap kali
saya pulang. Ya, kebetulan kami memang searah. Dan dalam perjalanan
pulang itu, dia sering memutar musik dan mendengarkannya melalui
earphone. Wah, saya selalu ditawarinya untuk sama-sama mendengarkan
musik yang ia putar, melalui earphone tersebut. Saya yang sebelah kiri,
dia yang kanan. Atau sebaliknya. Hmm, perjalanan pulang jadi
menyenangkan dan membuat kami tidak terlalu peduli akan berjejalnya
orang didalam bis dan macet yang sepertinya menjadi menu petang hari
kota ini.
Salah satu dari mereka yang
memiliki kendaraan pribadi juga sering menawarkan saya untuk menumpang,
jika memang kebetulan sedang bertujuan melewati daerah dekat rumah
saya.
Keadaan ini akhirnya membuat saya
jadi tidak canggung lagi kepada mereka. Saya pikir, untuk apa merasa
canggung? Toh mereka memang baik semua. Toh, saya juga tidak dibedakan
meski posisi saya adalah orang belakang. Bercanda dengan mereka juga
akhirnya menjadi lebih dari biasanya. Saya bisa saja meledek salah satu
dari mereka. Hahaha.. Saya ingat, saya pernah mencolek bokong salah
satu dari mereka. Dan buat saya, hal itu sangat lucu sekali. Dan memang
siempunya bokong itu lantas mengatakan saya kurang ajar. Tapi saya
yakin sekali, itu hanya bercanda. Ada juga yang begitu lewat didepan
saya, saya lantas bersiul-siul menggoda layaknya laki-laki iseng
dipinggir jalan melihat perempuan lewat. Buat saya, hal ini biasa saja.
Kan, saya sudah akrab dengan mereka.
Keadaan
ini membuat saya menjadi bebas untuk berlaku yang saya mau. Rasanya
nyaman sekali. Seperti dirumah saja. Saya bebas mengatakan apa yang
saya rasakan. Jika saya terlalu letih untuk dimintai bantuan, saya
tinggal menolaknya. Atau mereka yang tiba-tiba meminta tolong pada saya
tetapi secara mendadak dan tiba-tiba, padahal pertolongan yang dimaksud
menyita tenaga dan waktu saya. Saya tinggal tolak saja dengan alasan,
kenapa bukan sedari tadi meminta tolong pada saya. Apalagi yang hanya
meminta dibuatkan kopi atau teh. Sebenarnya menurut saya, jika bisa
mengerjakan sendiri untuk apa meminta bantuan saya? Saya yakin ini
tidak akan membuat mereka marah. Ini semua saya pikir karena saya
memang sudah akrab dengan mereka.
Pernah
suatu kali, salah satu dari mereka meminta tolong saya untuk
mem-fotokopi kertas-kertas yang saya tidak tahu apa isi kertas-kertas
yang menumpuk itu. Dengan mudahnya, saya tolak saja. Saya bilang
padanya, saya tidak mau. Saya lantas pergi saja dari hadapannya dengan
kertas-kertasnya itu. Ah, senang sekali, ternyata keakraban ini membuat
dia begitu pengertian, dan keakraban ini membuat saya tidak bersusah
payah mencari-cari alasan. Karena, saya juga pernah harus berbohong
dengan mengatakan kepala saya sedang pusing. Tapi tentunya itu sudah
tidak perlu lagi. Saling pengertian, saling terbuka, dan saling akrab.
Toh, setelah itu ternyata mereka tetap saja baik kepada saya. Ah..
sekali lagi, saya senang sekali bekerja disini!

Sampai
pada suatu hari saya menemukan berbedanya sikap mereka terhadap saya.
Dan saya tidak mengerti akan hal ini. Ada apa kira-kira?
Candaan-candaan saya lantas disambut dingin oleh mereka. Salah satu
dari mereka yang sering pulang satu bis dengan saya memilih untuk duduk
berjauhan. Yang pernah memberikan saya makanan-makanan, tidak lagi
bahkan hanya sekadar menawarkan. Apalagi yang pernah makan satu piring,
melihat saya saja sudah tidak mau. Padahal saya tersenyum dan
melontarkan sapaan penuh canda.
Salah
satu dari mereka yang suka meminta saya buatkan kopi atau teh, datang
ke pantry lantas meminta buatkan kopi dengan muka masam dan tanpa
candaan sedikitpun. Saya ingin menolaknya seperti yang sudah-sudah.
Tapi melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu saya lantas merasa
ngeri untuk menolaknya. Keadaannya sedang aneh, saya pikir.
Tetapi
ini berlanjut sampai berhari-hari. Sikap mereka benar-benar aneh.
Setiap saya datangi meja-meja mereka, mereka yang tadinya terdengar
riuh dengan candaan mereka dari kejauhan, lantas dalam sekejap menjadi
hening seperti kuburan.
Adalah dia yang
pernah sering menawarkan makanan yang akhirnya mengatakan pada saya
kenapa sikap mereka berubah. Itupun ketika akhirnya saya menemukan
kesempatan bertanya. Dengan muka masam dia mengatakan,
“Sikap kamu
itu tidak membuat kami nyaman. Sepertinya kamu memang sudah tidak bisa
lagi membantu kami. Padahal tugas kamu disini membantu kami kan?
Ketidaknyamanan kami yang berhubungan dengan posisi kamu adalah kamu
tidak mau dimintai bantuan, malah menolaknya. Kadang kamu juga kasar
menolaknya.
Belum lagi kamu kok
sepertinya kurang ajar pada kami. Kami bukan mau merendahkan kamu
mengingat posisi kamu disini. Kamunya saja yang memang tidak sopan. Ini
tidak ada hubungannya dengan posisi kamu disini. Bukan karena kamu
orang belakang makanya kamu kami sebut kurang ajar dengan sikap-sikap
kamu itu.”
“Karena walaupun kamu sama
posisinya dengan kami, tetapi dengan sikap kamu yang seperti itulah
kamu kami anggap kurang ajar dan tentunya itu membuat kami tidak merasa
nyaman. Sekali lagi, ini bukan karena posisi. Kami tidak pernah
merendahkan posisimu dikantor ini.” lanjutnya.
Saya lantas menjawabnya dengan pertanyaan, “Kenapa yang lain diam saja? Kenapa tidak bilang apa-apa pada saya?”
“Mereka tidak tega padamu. Saya juga begitu. Tapi saya pikir kamu akhirnya harus tahu juga. Biar kamu tahu diri.”
***
Dan hal terakhir yang saya dapat adalah keputusan dari atasan yang menaungi para office boy/girl bahwa saya harus di rolling. Alias saya harus ditukar posisi oleh office boy dari lantai lain. Memang hal ini sudah merupakan rutinitas dalam beberapa bulan sekali, dan seharusnya kami di-rolling. Tapi itupun sebenarnya didasari hasil survey
dari para karyawan itu sendiri sebelum keputusan dibuat. Dan yang
biasanya saya dipertahankan untuk tetap dilantai itu, kali ini tidak.
Ya, keberadaan saya dilantai itu sudah tidak diinginkan lagi. Dan saya
akhirnya ditempatkan di lantai enam belas, dimana orang-orangnya
terkenal ketus-ketus dan menyebalkan.
Akhirnya
saya menyadari dan cuma bisa merenungi, betapa sayangnya keakraban itu
lantas hilang karena sikap saya yang lantas menjadi melonjak seperti
itu. Sayang sekali keakraban itu hilang karena ke-songong-an saya.
Saya
terlupa bahwa hal ini sebenarnya sering saya dapati dipergaulan dan
dikehidupan sehari-hari. Misalnya antara teman. Karena merasa sudah
akrab satu sama lain, kita lantas menjadi lupa diri dan merasa sah-sah
saja melakukan apapun yang kita mau, mengatakan apapun yang kita mau,
tanpa berpikir kalau ada beberapa atau banyak hal yang bisa jadi dirasa
sangat tidak nyaman. Hal-hal yang sebenarnya jadi tidak menghormati dan
tidak menghargai atau bahkan mungkin menyinggung perasaan. Songong. Lancang.
Ini
adalah pelajaran yang saya dapat, walau bagaimanapun akrabnya, saya
tidak boleh lantas merasa saya bebas kurang ajar seperti itu. Jika ada
orang yang berlaku baik kepada kita, bukan berarti kita lantas bisa
seenaknya. Dan mudah-mudahan saya bukanlah satu-satunya yang ingat akan
hal ini. Dan baru menyadarinya setelah melakukannya.